Rabu, 24 Oktober 2012

Mengutip Pendapat Tentang Makna Lombok dan Sasak


SEMENTARA orang, terutama dari luar Lombok berpendapat bahwa, nama Pulau Lombok berasal dari nama tanaman Lombok atau Cabe Rawit yang rasanya pedas. Barangkali pendapat ini disesuaikan dengan tulisan namanya yang sekarang, “Lombok” dan sesuai pula dengan pulaunya yang kecil mungil. Juga nama suku Sasak, ada yang berpendapat bahwa, pada jaman dahulu, orang yang pertama kali datang sebagai penghuni Pulau Lombok, datang dengan menumpang sebuah rakit yang berarti “Sasak”. Oleh sebab itulah maka, nama penduduknya dinamakan orang Sasak.

Versi lain, menamakan suku Sasak ini berasal dari Sang Saka. Tulisan lain, dari seorang pujangga terkenal dalam jaman Majapahit yaitu,
Prapanca menulis nama Lombok ini, “Lombo’ Mirah Sasak Adi” (Almarhum H.Lalu Lukman).

Diuraikan juga pendapat bahwa, nama Sasak dan Lombok mempunyai kaitan yang erat, sehingga tidak dapat dipisahkan. Ia terjalin menjadi satu, yang berasal dari kata “Sa’sa’ Lombo’” (dari bahasa Sasak).Sa’ berarti satu, dan Lombo’ berarti lurus.

Dalam beberapa literatur dan buku-buku lama, terdapat kata Lombo’ ditulis dengan tanda (‘) ain, tidak memakai ‘K’ pada huruf akhirnya. Sementara dalam jaman Portugis, kata Lombok ditulis dengan memakai huruf “q” pada huruf akhirnya, menjadi “Lomboq” dan terakhir sesudah jaman Belanda, ditulis dengan huruf “K” pada huruf terakhirnya menjadi “Lombok”.

Cara menyebut atau membacanya, yang sebenarnya tidak berbunyi “O” dalam logat Jawa, tapi “o”, yaitu Sa’sa’ Lombo’, yang kemudian menjadi Sasak Lombo’, yang berarti satu-satunya lurus. Oleh karena itu, nama Lombo’ ini tidak berdiri sendiri dan selalu bergandengan. Lalu apa sebabnya kemudian kata “Sasak” dijadikan nama suku yang mendiami pulau ini, dan kata “Lombok” dijadikan nama pulau? Memang, antara penduduk dan pulau yang didiaminya tidaklah berpisah. Sebab, kedua kata ini memiliki kaitan. Kedua kata ini bagi penduduk Lombok mempunyai arti yang luas, bahkan menjadi falsafah bagi penduduknya “Sa’sa’ Lombo’” yang berarti secara letterlijk “satu-satunya kelurusan”, karena nama ini menjadi sumber hidup dan kehidupan suku Sasak yang mendiami pulau ini.

Bahasa Sasak sangat sederhana, yaitu tidak ada kata tempat atau nama benda, paling banyak terdiri dari dua suku kata. Kalau ada kata-kata yang terdiri lebih dari dua suku kata, tentunya datang dari luar, misalnya jendela, bendera (Portugis). Demikian pula untuk mendapatkan satu nama, pikirannya sangat sederhana, misalnya untuk mencari nama dalam suatu pengembangan desa, tidak pernah sulit untuk mencarikan nama dari desa yang baru itu dengan nama yang muluk-muluk. Cukup menambahkan dengan kata “timur” atau “barat”, misalnya nama desa Cakra Timur. Dalam pemecahannya lalu dinamai saja “desa Cakra Barat” atau semacamnya. Atau kalau kebetulan di tempat itu berdiri sebatang pohon, misalnya pohon asam, maka dusun yang dicarikan nama itu, cukup dinamakan dengan “Dasan Bagik” (Bagik=Asam). Demikian pula untuk mencari nama baru dari benda yang baru dikenalnya, yang datang dari luar, umpamanya itik yang didatangkan dari Jawa, maka cukup dinamakan “Bebek Jawa”, “Sapi Bali” dan lain-lain.

Dari segi hidup dan kehidpan bermasyarakat, suku Sasak juga bersandar dari Sa’sa’ Lombo’, sebagai cermin yang dianutnya. Karena kesederhanaan itu pulalah yang membawanya kepada penyerahan diri kepada Tuhan (Tauhid). Taat kepada Tuhan, taat kepada pemerintah dan taat kepada orang tua dalam arti kata yang luas.

Suku Sasak sangat teguh memegang apa yang diajarkan. Demikian pula di dalam bermasyarakat. Misalnya, di dalam menganut paham beragama, sebagaimana dimaklumi bahwa, agama Islam pada mulanya dibawa oleh salah seorang dari Wali Songo, kira-kira pada abad XVI yaitu, Sunan Prapen. Sudah tentu, apa yang dibawa oleh penyebarnya dalam tingkat permulaan, tidak akan sempurna, sebagaimana yang dijalankan sekarang. Karena dalam tahap permulaan, ia akan merupakan satu agama peralihan. Maka untuk mengadakan penyempurnaan dari generasi yang kemudian sangat sulit, karena mereka sangat taat dengan ajaran yang sudah diterimanya dari guru yang pertama tadi. Hal ini terbukti pada masyarakat yang dinamakan “Islam Waktu Telu”.

Contoh lain di dalam bermasyarakat, penduduk Lombok sangat taat kepada orang tua yakni Ibu Bapak dan orang tua yang memang perlu dihormati. Misalnya, di dalam satu kampung yang biasanya terdiri dari beberapa rumpun keluarga, di dalam bermustawarah atau membicarakan sesuatu, jika orang tua atau yang dianggap lebih tua memberikan pendapat, saran atau pandangan, maka yang lain akan ikut pada saran atau pendapat itu. Karena berdasarkan kejujuran atau kesederhanaan, orang yang lebih tua dan patut lebih dihormati itu tidak akan membohonginya. Itulah juga yang menjadi dasar bagi masyarakat “Waktu Telu” pada transisinya bahwa, untuk menjalankan syari’at agama, lebih banyak diserahkan pada Kiyai dan Pemangkunya.

Sudah tidak dapat diragukan lagi, karena ini memang sudah sejalan dengan faham di dalam agama, yaitu kepada Tuhan, taat kepada Rasul dan taat kepada Pemerintah. Seandainya oknum yang menduduki pemerintahan itu seorang yang tidak jujur, lalu mengelabui rakyat untuk kepentingannya sendiri, dalam tingkat pertama juga akan ditaatinya. Dalam hal ini nampak merupakan kelemahan bagi mereka yang secara bulat menyerahkan persoalannya kepada seorang pemimpin yang kemudian ternyata menipunya. Mereka juga tidak akan membuat reaksi yang berlebih-lebihan, paling-paling mereka akan menggerutu yang dalam sesenggak sasak mengatakan : “ie penje ia penjahit, ie pete ie dait, bagus pete bagus tedait, lenge pete lenge tedait”, yang artinya; bagus dicari bagus yang didapat, buruk dicari buruk yang didapat. Pada hakekatnya, pengertiannya menyerahkan kepada Tuhan yang nanti menentukan.

Paham yang semacan di atas, kadang-kadang kalau ditinjau dari segi bermasyarakat terutama pada zaman sekarang ini, merupakan suatu kelemahan yang dapat saja dieksploitir oleh pihak lain. Tapi kalau ditinjau dari segi keyakinan, pada hakekatnya merupakan suatu kekuatan iman, bahwa segala sesuatunya berada di tangan Tuhan.

Dari uraian hal-hal di atas itulah disimpulkan, nama suku Sasak dan pulau Lombok ini berasal dari “Sa’sa’ Lombo’” yang kemudian menjadi Sasak untuk nama suku yang menghuninya dan Lombok untuk nama pulau yang sekarang kita kenal dengan nama Pulau Lombok atau Pulau Seribu Masjid. Semoga! (L.Pangkat Ali)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar